Dalam usaha penangkapan ikan, mengenal daerah penangkapan
merupakan hal yang mutlak. Mengoperasikan alat tangkap di suatu daerah
penangkapan tanpa mengetahui sifat dan keadaan perairannya akan merupakan suatu
usaha yang sia-sia, dengan resiko tidak mendapatkan ikan atau jaring akan
tersangkut pada batu atau karang.
Daerah
penangkapan ikan (Fishing ground) adalah suatu wilayah perairan dimana terjadi
interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan
teknologi penangkapan untuk menangkap ikan tersebut. Perairan dimana terdapat
banyak ikan bergerombol dan memungkinkan untuk dapat ditangkap dengan alat
tangkap tertentu dinamakan daerah penangkapan potensial (2009.Musbir, dkk).
Kondisi
suatu perairan untuk menjadi suatu daerah penangkapan ikan adalah sebagai
berikut:
a)
Wilayah
perairan tersebut harus memiliki suatu kondisi yang menyebabkan ikan-ikan mudah
berkumpul secara bergerombol, dimana perairan tersebut merupakan habitat yang
baik untuk iksn.
b)
Wilayah
perairan tersebut merupakan suatu daerah yang aman untuk pengoperasian suatu
alat penangkapan ikan.
c)
Wilayah
perairan tersebut merupakan suatu daerah penangkapan yang menguntungkan
A. Karakteristik
Daerah Penangkapan Ikan Berdasarkan Alat Penangkapan Ikan
Meskipun beberapa spesies
ikan selalu ada dan berkumpul di suatu perairan tertentu namun jika daerah
tersebut sangat sukar dioperasikan dengan alat penangkapan ataupun jika usaha
perikanan di daerah tersebut tidak dapat menutup ongkos-ongkos pengeluaran disebabkan
sumber perikanannya hanya sedikit, maka daerah tersebut dapat dikatakan bukan
perairan yang bagus untuk tujuan penangkapan.
Menurut alat penangkapan
ikan yang dioperasikan, daerah penangkapn dapat dibedakan atas 6 bagian antara
lain :
1. Fixed Trap
Net Fishing Ground
Fishing ground pantai dengan kedalaman beberapa meter sampai maksimal 80 m.
Fixed net ditempatkan di daerah ruaya ikan dan ikan akan terjebak di jarring
2. Lift Net
Fishing Ground
Lift net
atau bagan merupakan salah satu jaring angkat yang dioperasikan di perairan
pantai pada malam hari dengan menggunakan cahaya lampu sebagai faktor penarik
ikan. Konstruksi dasar
perairannya harus berupa pasir atau lumpur karena sebagai penancap tiang
pancang dari bagan tersebut. Kedalaman perairan itu sendiri berkisar antara 8
hingga 15 meter dari permukaan laut dengan arus
lemah, Ikan dapat ditarik ke jaring karena faktor umpan atau cahaya.
3. Purse
Seine Fishing Ground
Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat
tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut”
di lalukan di dalamnya. Purse
seine dapat digunakan pada fishing ground dengan kondisi yang jumlah ikan
berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air dan kondisi laut dalam
keadaan bagus dan tenang. Kedalaman perairan yang dapat di operasiakan alat
purse seine yaitu 15m-50m dari permukaan laut tergantung besarnya alat tangkap
tersebut.
4. Trawl Net
Fishing Ground
Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat
fishing ground, antara lain sebagai berikut:
a) Dasar fishing ground terdiri dari
pasir, Lumpur ataupun campuran pasir dan Lumpur.
b) Kecepatan arus pada mid water
tidak besar ( dibawah 3 knot ) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar
c) Kondisi cuaca,laut, ( arus, topan, gelombang, dan
lain-lain ) memungkinkan keamanan operasi
d) Perubahan milieu oceanografi terhadap mahluk dasar
laut relatif kecil dengan perkataan lain kontinuitas recources dijamin untuk
diusahakan terus-menerus
e)
Perairan
mempunyai daya prokdutifitas yang besar serta recources yang melimpah. (http://fiqrin.wordpress.com/artikel-tentang-ikan/alat-tangkap-trawl/)
5. Gill Net Fishing Ground
Fishing ground
ini tergantung dari tipe jaring dan kedalaman perairan
·
Surface gill
net untuk menangkap ikan pelagic
·
Drift gill
net untuk menangkap ikan pelagic
·
Bottom gill
net untuk menangkap ikan demersal
·
Surounding /
Encircling gill net untuk menangkap ikan pelagic
·
Gill net
dioperasikan pada perairan dengan arus yang tidak kuat
Ikan akan terjebak, yaitu terjerat atau terpuntal Sangat
efisien bila dioperasikan pada malam hari.
Pada umumnya yang menjadi fishing
ground atau daerah penangkapan adalah daerah pantai, teluk, dan muara-muara
yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis. (http://fiqrin.wordpress.com/artikel-tentang-ikan/gillnet/)
6. Angling Fishing Ground
Menurut Hetharuca diacu dalam
handriana 2007, daerah penangkapan ikan dengan menggunakan pancing merupakan
daerah dimana oprasi penangkapan ikan berlangsung yang diduga tempat ikan-ikan
bergerombol, biasanya daerah yang menjadi sasaran tangkapan adalah daearh
dimana terdapat ikan tuna yaitu pertemuan antara 2 arus yang terjadi, tempat
terjadinya Upwelling, konvergensi, dan divergensi yang merupakan daearh
berkumpulnya plankton, perairan yang memiliki salinitas 34%, temperatur optimum
berkisar anatar 150C-300C pancing tonda juga di operasikan di daerah tempat
ikan-ikan pelagis. Pancing tonda dioprasikan dibeberapa daerah seperti india, pelabuhan ratu,
teluk lampung, banda aceh dan lain-lain.
Jenisnya sangat bervariasi tergantung dari sasaran penangkapan
Fishing ground dekat terumbu karang, kedalaman cukup, arus tidak kuat.
B. Karakteristik
Daerah Penangkapan Ikan Berdasarkan Sumber Daya Ikan
Tingkah
Laku Ikan dan Kondisi dari Daerah penangkapan Ikan Tidak dapat dikatakan bahwa
ikan hidup dimana saja di seluruh lautan. Menurut spesiesnya, ikan
didistribusikan secara horizontal atau vertikal di pada daerah batasan
tertentu. Daerah penangkapan ikan juga berbeda menurut garis lintang dan garis
bujur seperti kedalaman air di mana ikan berada.
Alasan
utama kenapa spesies ikan tertentu berkumpul di daerah tertentu diperkirakan
jadi seperti berikut :
a)
Ikan
memilih kehidupan lingkungan yang sesuai untuk spesiesnya.
b)
Mereka
memburu sumber makanan yang berlimpah.
c)
Mereka
mencari tempat yang sesuai untuk memijah dan berkembang biak.
Klasifikasi
fishing ground berdasarkan spesies ikan
• Tuna
dan skipjack fishing ground
Penyebaran ikan-ikan tuna di kawasan
barat Indonesia terutama terdapat di Samudera Hindia. Di perairan ini terjadi
percampuran antara perikana tuna lapisan dalam yang dieksploitasi dengan alat
rawai tuna dengan perikana tuna permukaan yang dieksploitasi menggunakan alat
tangkap pukat cincin, gillnet, tonda, dan payang
•
Salmon fishing ground
Salmon kembali ke perairan air tawar
yang deras untuk berkembang biak. Metode navigasi yang dilakukannya kemungkinan
dilakukan dengan indra penciuman ikan tersebut. Setengah dari salmon dewasa
akan mati dalam beberapa hari hingga minggu setelah berkembang biak.Jarak yang
harus ditempuh salmon untuk mencapai tujuannya kerap sejauh 1.500 kilometer
(930 mil), yang berarti menuntut perjalanan selama berbulan-bulan
Migrasi
yang untuk mencari makanan disebut food-seeking ground (pencarian daerah
makanan). Kemudian migrasi untuk memijah disebut spawning migration dan area
perairan dimana mereka memijah disebut spawning ground (daerah bertelur /memijah).
Selama mereka bermigrasi dan dalam pencarian makanan dan daerah memijah, ikan tersebut
bergerombol bersama dalam kelompok yang padat. Tempat tersebut yang penuh sesak
dengan ikan secara alamiah menjadi daerah penangkapan ikan yang bagus untuk
nelayan. Peristiwa dari gerombolan ikan haring di awal musim semi adalah satu
contoh yang bagus dari migrasi ikan untuk mencari tempat memijah.
Di
samping jenis ikan tersebut diatas di mana terjadi migrasi yang besar, ada
spesies ikan lainnya di mana telah tertentu pada suatu daerah terbatas di
lautan. Radius pergerakan mereka terbatas. Jenis utama dari pergerakan mereka
adalah secara vertikal, yang dimana, mereka berpindah antara dasar dan
permukaan air pada siang hari atau malam hari. Ada juga beberapa spesies yang
berpindah antara perairan pantai yang dangkal dan perairan lepas pantai yang dalam
sepanjang musim. Jenis pergerakan ini disebut secara horizontal atau
perpindahan kedalaman. Ikan yan tinggal menetap terus-menerus juga menjadikan
daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan.
Kebanyakan gugus laut berada lebih
dangkal dibandingkan 400 meter pada kedalaman. Asal usul gugus laut dibagi
menjadi dua: vulkanik dan tektonik. Berbicara secara umum, bentuk dari
kehidupan pada gugus laut adalah lebih berlimpah dan bervariasi daripada di
continental shelf. Banyaknya perpindahan dan ikan demersal yang ditemukan di
gugus laut membuatnya jadi suatu daerah penangkapan ikan yang bagus.
Pengetahuan tentang oseanografi seperti itu akan bermanfaat ke arah peningkatan
produksi perikanan.
C. Karakteristik
Daerah Penangkapan Ikan Hubungannya dengan Habitat Ikan
Daerah penangkapan
ikan di perairan pantai Pada keadaan normal, pesisir pantai memiliki banyak
daerah penangkapan ikan yang bagus. Produksi perikanan dari daerah ini dengan
baik meningkat dari tahun ke tahun. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai
termasuk meliputi usaha rumput laut, ikan dan kerang-kerangan dan untuk jenis
yang khusus bergerak seperti ikan haring, ikan salmon, ikan ekor kuning, ikan
tuna dan ikan laut air tawar yang mendekati daerah pantai untuk mencari makanan
atau untuk memijah.
Daerah penangkapan
ikan di perairan pantai ini mungkin dibagi lagi ke dalam trap-net (jaring
perangkap) fishing ground, small trawling (pukat tarik yang kecil) fishing
ground, driving in net fishing ground, beach
seine (pukat pantai) fishing ground, hand purse seine (purse seine tangan)
fishing ground, surrounding net (jaring lingkar) fishing ground, pole and line
fishing ground, dan lain sebagainya.
Untuk tujuan konservasi sumberdaya perikanan
di pesisir perairan pantai dan menjaga mutu dari daerah penangkapan ikan,
ukuran harus diambil di sepanjang garis pembangunan pada pembatas di laut,
penangkaran buatan dan melepaskan anak ikan lalu menjaganya. Ini juga sangat
penting untuk pemeliharaan dan pembangunan dari nilai mutu dari daerah
penangkapan ikan, untuk menghasilkan pemahaman dan kerja sama dari nelayan
untuk konservasi sumberdaya perikanan sama halnya sesuai pengambilan keputusan
dan manajemen dari administrasi perikanan
Daerah
penangkapan ikan pelagis
Salah satu contoh
ikan pelagis di Lautan Pasifik adalah ikan skipjack. Daerah penangkapan untuk
ikan skipjack utamanya berlokasi pada lapisan subtropis yang konvergen yang
dibentuk oleh pertemuan aliran arus hangat dan arus dingin. Spesies ikan
lainnya yang bermigrasi, di kedua jenis arus hangat dan dingin, seperti ikan
tuna dan ikan salmon, secara musiman naik menuju utara atau turun ke selatan
untuk mencari makanan di dalam pusaran air atau arus rip yang dibentuk oleh
pertemuan dua aliran arus.
Lebih lanjut, bentuk
topografi yang rumit pada pantai dan perairan sampai kedalaman 200 meter di
mana arus dasar laut naik keatas dan bercampur dengan massa air hangat pada
bagian atas, menghasilkan plankton dalam jumlah yang sangat besar yang dimana
mengundang ikan untuk bermigrasi dan menetap di sana. Area migrasi ikan
skipjack, tuna dan salmon di Pasifik adalah sangat luas dan hampir tak
terhingga dari bagian atas garis katulistiwa hingga ke perairan daerah utara.
Tapi hal itu harus diperhatikan bahwa daerah
penangkapan ikan yang sesuai untuk spesies ikan pelagis adalah hampir terbatas
pada daerah arus rip di perairan tersebut.
Daerah
penangkapan ikan demersal
Pada continental
shelf (paparan benua) di mana umumnya terdapat pada kedalaman 200 m adalah
sangat sesuai untuk ikan demersal atau yang hidup di dekat dasar laut. Kolom
perairan yang kedalamnya lebih dari 400 m adalah sangat tidak sesuai untuk
ikan, kecuali beberapa spesies yang khusus. Makhluk hidup pada dasar laut
termasuk yang selalu tinggal di satu tempat, meliputi pergerakan secara
horizontal atau pada kedalaman dan pergerakan menuju daerah dangkal, atau
secara musiman membuat suatu migrasi yang panjang. Pada continental shelf
dimana terdapat pasir atau berbagai bahan organik lain yang mengalir dari
perairan pantai lalu mengendap, sebagian besar menjadi pupuk dan sesuai untuk
pertumbuhan plankton. Oleh karena manfaat dari daerah paparan (shelf), pada
daerah pesisir pantai atau pintu masuk perairan adalah daerah penangkapan yang
ideal untuk kerang-kerangan dan rumput laut, khususnya ikan-ikan kecil. Ketika
melakukan penangkapan ikan, jaring yang tarik di dasar perairan (bottom drag
nets) adalah yang paling sering digunakan. Beberapa spesies ikan pelagis
mungkin tertangkap di perairan tersebut.
Tapi kolom perairan
yang lebih dari kedalaman 800 meter, meskipun ada ditemukan beberapa spesies
ikan, sangat tidak sesuai untuk digunakan sebagai daerah penangkapan ikan bukan
hanya karena kesulitan dalam operasi penangkapan ikan tetapi juga jarangnya
terdapatsumberdaya perikanan.
D.
Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan
Hubungannya dengan Target Penangkapan
Daerah
penangkapan ikan sering dibuat
berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat
tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan
dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi :
1)
Spesies
dari ikan: tuna dan skipjack fishing ground, salmon fishing ground, dan
sebagainya.
2)
Jenis
alat tangkap ikan: trawl fishing ground, long line fishing ground, fixed-net
fishing ground, pole and line fishing ground, surrounding-net (jaring lingkar)
fishing ground, dan sebagainya.
3)
Kawasan
perairan: daerah penangkapan dalam laut atau permukaan, daerah penangkapan yang
dekat dengan pantai, daerah penangkapan pantai dan daerah penangkapan pada
perairan darat.
4)
Kawasan
laut: daerah penangkapan di Pasifik Utara, daerah penangkapan di Laut China
Selatan, daerah penangkapan di China Bagian Tenggara, dan lain sebagainya.
E. Karakteristik
Daerah Penangkapan Ikan Hubungannya dengan Musim dan Cuaca
Musim
dan cuaca akan berpengaruh terhadap dinamika sumberdaya ikan yang ada di
perairan tersebut, juga akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan serta
potensi sumberdaya perikanan secara umum.
Secara umum
kondisi Oseanografis perairan Indonesia dipengaruhi oleh musim timur dan
barat sebagai akibat pergantian sistem tekanan udara di daratan Asia dan
Australia. Kondisi perairan yang berubah – ubah sesuai musim tersebut baik
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas perairan yang
selanjutnya akan berpengaruh terhadap perilaku pengelompokkan ikan.
Menurut
Badrudin (1985) dalam Widodo et. al. (1998) pada musim timur ada
kecenderungan penggerombolan ikan di sebelah barat Tanjung Selatan dan Tanjung
Puting, Selatan Kalimantan sedangkan pada musim barat ada kecenderungan
penggerombolan ikan demersal di pantai timur Sumatera Selatan/Lampung. Belum
diketahui secara pasti apakah kebiasaan menggerombol secara musiman tersebut
lebih berkaitan dengan ketersediaan makanan atau mencari tempat untuk memijah
atau untuk berlindung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar